MenyusunTeks Laporan Hasil Observasi dan Tugas. Pertemuan 5 Teks Anekdot ( 7 Agutus 2020 ) Merumuskan Mosi Berdasarkan Isu atau Permasalahan. Pertemuan 10 Debat (5 Februari 2021) Menciptakan Kembali Teks Anekdot dengan Memerhatikan Struktur dan Kebahasaan beserta Tugas. Berikutulasannya: 1. Ide Cerita. Ditinjau dari aspek ide cerita, teks anekdot diangkat dari peristiwa nyata yang terjadi di masyarakat. Sementara humor, ide ceritanya berasal dari rekaan semata. 2. Isi Teks. Berdasarkan isi teksnya, teks anekdot berisi tentang masalah yang berkaitan dengan tokoh publik atau masalah yang menyangkut sekelompok D Menciptakan Kembali Teks Anekdot dengan Memerhatikan Struktur dan Kebahasaan Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu: 1. menceritakan kembali isi teks anekdot dengan pola penyajian yang berbeda; 2. menyusun teks anekdot berdasarkan kejadian yang menyangkut orang banyak atau perilaku seorang tokoh publik. 10tyy. TEKS ANEKDOTA. Pengertian dan Fungsi Teks AnekdotSalah satu cerita lucu yang banyak beredar di masyarakat adalah anekdot. Anekdotdigunakan untuk menyampaikan kritik, tetapi tidak dengan cara yang kasar danmenyakiti. Anekdot ialah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengangkat cerita tentang orang penting tokoh masyarakat atau terkenalberdasarkan kejadian yang nyata ini kemudian dijadikan dasar cerita lucu dengan menambahkan unsur partisipan pelaku cerita, tempat kejadian, dan waktu peristiwa dalam anekdottersebut merupakan hasil Anekdot adalah sebuah cerita pendek yang berisi sebuah sindirananekdot terhadap sesuatu atau seseorang yang dilengkapi dengan pokok Isi pokok dari sebuah teks anekdot adalah sebuah sindirian padaanekdot suatu hal atau pada Fungsi dari anekdot adalah sebuah hiburan atau intermezzo yanganekdot dilengkapi dengan sebuah sindiran terhadap suatu Struktur Teks AnekdotAnekdot memiliki struktur teks yang membedakannya dengan teks lainnya. Teks anekdotmemiliki struktur abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan Abstraksi merupakan pendahuluan yang menyatakan latar belakang atau gambaran umum tentang isi suatu Orientasi merupakan bagian cerita yang mengarah pada terjadinya suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah yang menjadi penyebab timbulnya Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari inti peristiwa suatu anekdot. Pada bagian krisis itulah terdapat kekonyolan yang menggelitik dan mengundang Reaksi merupakan tanggapan atau respons atas krisis yang dinyatakan sebelumnya. Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap mencela atau Koda merupakan penutup atau simpulan sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan, komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata, seperti itulah,akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda bersifat opsional; bisa ada ataupun tidak Aksi Maling Tertangkap CCTV Struktur Isi Abstraksi OrientasiSeorang warga melapor “Pak saya kemalingan.” KrisisPolisi “Kemalingan apa?”Pelapor “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak...” ReaksiPolisi “Kemalingan kok beruntung?” KodaPelapor “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekamdengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajahmalingnya.”Polisi “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”Pelapor “Belum .... “ sambil menatap polisi dengan “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”Pelapor hanya bisa pasrah tak berdaya.C. Kebahasaan Teks AnekdotSeperti juga teks lainnya, anekdot memiliki unsur kebahasaan yang khas yaitu 1. Menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu, 2. Menggunakan kalimat retoris, [kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban]; 3. Menggunakan konjungsi [kata penghubung] yang menyatakan hubungan waktu seperti kemudian, lalu; 4. Menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca, dan berjalan, ; 5. Menggunakan kalimat perintah imperative sentence; dan 6. Menggunakan kalimat seru. Khusus untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung sangat Unsur Kebahasaan Contoh Kalimat1. Kalimat yang menyatakan Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa peristiwa masa lalu penuntut umum menyerang saksi. “Apakah benar,” teriak Jaksa, “bahwa Anda2. Kalimat retoris menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”3. Penggunaan konjungsi yang Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab menyatakan hubungan pertanyaan Jaksa.” waktu4. Penggunaan kata kerja aksi Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar Penggunaan kalimat “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.” perintah6. Penggunaan kalimat seru “Oh, maaf.”D. Menyusun Teks Anekdot berdasarkan Kejadian yang Menyangkut Orang Banyakatau Perilaku Tokoh PublikDalam menyusun anekdot, ada beberapa hal yang harus ditentukan lebih dulu. Hal tersebutadalah menentukan tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian teksanekdot. Langkah-langkah ini akan memudahkan untuk belajar menyusun penyusunan disajikan dalam bentuk tabel, dengan penyelesaian pada Aspek Isi1. Tema Kasih sayang pada orangtua. Anak yang memandang orangtua di masa tuanya2. Kritik sebagai orang yang Humor/ Orang dewasa malu karena dikritik oleh anak kecil. kelucuan4. Tokoh Kakek tua, ayah, anak dan menantu. Abstraksi Kakek tua yang tinggal bersama anak, menantu dan cucu 6 tahun. Kebiasaan makan malam di rumah Orientasi si anak. Kakek tua makannya sering Struktur Krisis Kakek tua diberi meja kecil terpisah di pojok, dengan alat makan anti pecah. Reaksi Cucu 6 tahun membuat replika meja terpisah. Cucu 6 tahun mengungkapkan kelak akan Koda membuat meja terpisah juga untuk ayah dan Alur Kakek tua tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 tahun. Karena sudah tua, mata si Kakek rabun dan tangannya bergetar sehingga kerap menjatuhkan makanan dan alat makan. Agar tidak merepotkan, ia ditempatkan di meja terpisah dengan alat makan anti pecah. Anak dan menantunya baru sadar ketika diingatkan oleh cucu 6 tahun yang tengah bermain membuat replika Pola Narasi. Penyajian Teks Seorang kakek hidup serumah bersama anak, menantu, dan anekdot cucu berusia 6 tahun. Keluarga itu biasa makan malam bersama. Si kakek yang sudah pikun sering mengacaukan segalanya. Tangan bergetar dan mata rabunnya membuat kakek susah menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap si kakek meraih gelas, sering susu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya menjadi gusar. Suami istri itu lalu menempatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan, tempat sang kakek makan sendirian. Mereka memberikan mangkuk melamin yang tidak gampang pecah. Saat keluarga sibuk dengan piring masing-masing, sering terdengar ratap kesedihan dari sudut ruangan. Namun, suami-istri itu justru mengomel agar kakek tak menghamburkan makanan lagi. Sang cucu yang baru berusia 6 tahun mengamati semua kejadian itu dalam diam. Suatu hari si ayah memerhatikan anaknya sedang membuat replika mainan kayu. “Sedang apa, sayang?” tanya ayah pada anaknya. “Aku sedang membuat meja buat ayah dan ibu. Persiapan buat ayah dan ibu bila aku besar nanti.” Ayah anak kecil itu langsung terdiam. Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu, kakek akan kembali diajak makan di meja yang sama. Tak akan ada lagi omelan saat piring jatuh, makanan tumpah, atau taplak ternoda kuah. Sumber J. Sumardianta, Guru Gokil Murid Unyu. Halaman 47. dengan penyesuaianE. Pola Penyajian AnekdotAnekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog maupun narasi. Salah satu ciri dialog adalahmenggunakan kalimat langsung. Kalimat langsung adalah sebuah kalimat yang merupakanhasil kutipan langsung dari pembicaraan seseorang yang sama persis seperti apa yangdikatakannya. Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Dialog NarasiPada puncak pengadilan korupsi Pada puncak pengadilan korupsi politik,politik, Jaksa penuntut umum menyerang penuntut umum menyerang “Apakah benar,” teriak Jaksa, “bahwa Andasaksi. menerima lima ribu dolar untukJaksa “Apakah benar, bahwa anda berkompromi dalam kasus ini?”menerima lima ribu dolar untuk Saksi menatap keluar jendela seolaholahberkompromi dalam tidak mendengar ini?” “Bukankah benar bahwa Anda menerimaSaksi menatap keluar jendela lima ribu dolar untuk berkompromi dalamseolah-olah tidak mendengar kasus ini?” ulang Saksi masih tidak “Apakah benar, bahwa anda Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolongmenerima lima ribu dolar untuk jawab pertanyaan Jaksa.”berkompromi dalam “Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil berkatakasus ini?” kepada hakim, “Saya pikir dia tadi berbicaraSaksi tidak menanggapi dengan Anda.”Hakim “Pak, tolong jawabpertanyaan Jaksa.”Saksi kaget “Oh, maaf. Saya pikerdia tadi berbicara dengan Anda.”RujukanKosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indoneisa SMA/MA/ Yrama WidyaSuherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta PusatKurikulum dan Perbukuan, Balitbang, dkk. 2017. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta PusatKurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud D. Menciptakan Kembali Teks Anekdot dengan Memerhatikan Struktur dan Kebahasaan Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu 1. menceritakan kembali isi teks anekdot dengan pola penyajian yang berbeda; 2. menyusun teks anekdot berdasarkan kejadian yang menyangkut orang banyak atau perilaku seorang tokoh publik. Kegiatan 1 Menceritakan Kembali Isi Anekdot dengan Pola Penyajian yang Berbeda Setelah memahami batasan anekdot, isi, struktur dan ciri kebahasaannya, berikutnya kamu akan belajar menulis anekdot. Untuk dapat menulis anekdot, terlebih dulu belajarlah menuliskan kembali teks anekdot yang kamu dengar atau kamu baca.. Salah satu cara menulis teks anekdot adalah dengan menulis ulang teks anekdot yang kita dengar atau baca dengan pola penyajian yang berbeda. Tentu saja juga menggunakan gaya penceritaan yang berbeda. Namun, penulisan ulang ini tetap harus memerhatikan kebahasaan dan strukturnya. Berikut ini adalah teks anekdot Seorang Dosen yang juga Pejabat dengan pola penyajian naratif yang diubah dari teks aslinya yang berbentuk dialog. Dosen yang juga Menjadi Pejabat Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa sedang berbincang-bincang. “Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu duduk, tidak pernah mau berdiri,” kata Tono kepada Udin. Udin ogah-ogahan menjawab pertanyaan Tono. Udin beranggapan bahwa masalah yang dibicarakan Tono itu tidak penting. Namun, Tono tetap meminta agar Udin mau menerka teka-tekinya. “Barangkali saja, beliau capek atau kakinya tidak kuat berdiri,” jawab Udin merasa jengah. Ternyata jawaban Udin masih juga salah. Menurut Tono, dosen yang juga pejabat itu tidak bersedia berdiri sebab takut kursinya diambil orang lain.” Mendengar pernyataan Tono, Udin menanyakan apa hubungan antara menjadi dosen. “Ya, kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain,” ungkap Tono. Udin “???” Kelas X SMAMASMKMAK 98 Tugas Untuk dapat lebih memahami bagaimana penggunaan kalimat langsung dalam anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog dan dalam bentuk narasi, lakukan kegiatan berikut ini. a Ubahlah penyajian anekdot Aksi maling Tertangkap CCTV dari bentuk dialog ke dalam bentuk narasi seperti penyajian anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. b Ubahlah penyajian anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Dari bentuk narasi ke bentuk dialog seperti penyajian anekdot Aksi maling Tertangkap CCTV Judul anekdot Setelah selesai dan mendapatkan izin dari guru, tempelkan hasil kerjamu pada kegiatan 1 dan kegiatan 2 di papan tulis kelas atau di bagian lain yang memungkinkan. Lakukan saling baca karya dan bersikaplah terbuka untuk menerima masukan dari teman-temanmu. Setelah belajar menuliskan kembali anekdot, saatnya sekarang kamu belajar menulis anekdot berdasarkan pengamatan pada lingkungan atau kejadian yang menyangkut orang banyak yang mengandung kelucuan. Kamu juga bisa menyajikan anekdot tentang perilaku tokoh publik yang menurutmu perlu dikritisi. 99 Bahasa Indonesia Kegiatan 2 Menyusun Teks Anekdot berdasarkan Kejadian yang Menyangkut Orang Banyak atau Perilaku Tokoh Publik Dalam menyusun anekdot, ada beberapa hal yang harus ditentukan lebih dulu. Hal tersebut adalah menentukan tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian teks anekdot. Langkah-langkah ini akan memudahkan kamu untuk belajar menyusun anekdot. Jadi bacalah dengan teliti contoh penyusunan anekdot agar nantinya kamu bisa menyusun anekdotmu sendiri. Dalam contoh berikut ini, kamu akan mengetahui bagaimana anekdot disusun. Langkah-langkah penyusunan disajikan dalam bentuk tabel, dengan penyelesaian pada kolom ketiga. No. Aspek Isi 1 Tema Kasih sayang pada orang tua 2 Kritik Anak yang memandang orang tua di masa tuanya sebagai orang yang merepotkan. 3 Humor kelucuan Orang dewasa malu karena dikritik oleh anak kecil 4 Tokoh Kakek tua, ayah, anak dan menantu 5 Struktur Abstraksi Kakek tua yang tinggal bersama anak, menantu dan cucu 6 tahun. Orientasi Kebiasaan makan malam di rumah si anak. Kakek tua makannya sering berantakan. Krisis Kakek tua diberi meja kecil terpisah di pojok, dengan alat makan anti pecah. Reaksi Cucu 6 tahun membuat replika meja terpisah. Koda Cucu 6 tahun mengungkapkan kelak akan membuat meja terpisah juga untuk ayah dan ibunya. Kelas X SMAMASMKMAK 100 6 Alur Kakek tua tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 tahun. Karena sudah tua, mata si Kakek rabun dan tangannya bergetar sehingga kerap menjatuhkan makanan dan alat makan. Agar tidak merepotkan, ia ditempatkan di meja terpisah dengan alat makan anti pecah. Anak dan menantunya baru sadar ketika diingatkan oleh cucu 6 tahun yang tengah bermain membuat replika meja. 7 Pola penyajian Narasi 8 Teks anekdot Seorang kakek hidup serumah bersama anak, menantu, dan cucu berusia 6 tahun. Keluarga itu biasa makan malam bersama. Si kakek yang sudah pikun sering mengacaukan segalanya. Tangan bergetar dan mata rabunnya membuat kakek susah menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh. Saat si kakek meraih gelas, sering susu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya menjadi gusar. Suami istri itu lalu menempatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan, tempat sang kakek makan sendirian. Mereka memberikan mangkuk melamin yang tidak gampang pecah. Saat keluarga sibuk dengan piring masing-masing, sering terdengar ratap kesedihan dari sudut ruangan. Namun, suami-istri itu justru mengomel agar kakek tak menghamburkan makanan lagi. Sang cucu yang baru berusia 6 tahun mengamati semua kejadian itu dalam diam. Suatu hari si ayah memerhatikan anaknya sedang membuat replika mainan kayu. “Sedang apa, sayang?” tanya ayah pada anaknya. “Aku sedang membuat meja buat ayah dan ibu. Persiapan buat ayah dan ibu bila aku besar nanti.” Ayah anak kecil itu langsung terdiam. Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu, kakek akan kembali diajak makan di meja yang sama. Tak akan ada lagi omelan saat piring jatuh, makanan tumpah, atau taplak ternoda kuah. Sumber J. Sumardianta, Guru Gokil Murid Unyu. Halaman 47. dengan penyesuaian 101 Bahasa Indonesia Tugas Sekarang cobalah menyusun anekdotmu sendiri. Gunakan tabel yang sama dengan contoh di atas. Tema yang digunakan bisa kejadian sehari- hari dari perilaku orang terkenal. Jangan lupa memerhatikan isi dan kebahasaan dari anekdot yang kamu susun. No. Aspek Isi 1 Menyusun Tema 2 Masalah yang dikritik 3 Humor kelucuan 4 Tokoh 5 Struktur Abstraksi Orientasi Krisis Reaksi Koda 6 Alur 7 Susunan Anekdot Kegiatan 3 Mempresentasikan Anekdot Setelah bekerja secara individu menyusun anekdot yang temanya kamu pilih sendiri, dengan isi dan gaya bahasamu sendiri, sekarang saatnya mempresentasikan anekdot buatanmu di depan kelas. Lakukan langkah-langkah berikut. a Bagilah kelasmu menjadi beberapa kelompok. b Buatlah majalah dinding dua dimesi atau tiga dimensi untuk memamerkan anekdotmu. Gunakan bahan-bahan yang mudah kamu dapatkan di sekitarmu. c Lakukan pameran di halaman atau taman sekolah. d Siapkan lembar komentar untuk menampung komentar para pengunjung. Kelas X SMAMASMKMAK 102 1 Anekdot adalah cerita singkat dan lucu yang digunakan untuk menyampaikan kritik melalui sindiran lucu terhadap kejadian yang menyangkut orang banyak atau perilaku tokoh publik. 2 Isi anekdot adalah sindiran dan kritikan terhadap kejadian yang menyangkut orang banyak atau perilaku tokoh publik. 3 Fungsi komunikasi teks anekdot adalah untuk menyampaikan kritik terhadap kejadian yang menyangkut orang banyak atau perilaku tokoh publik. 4 Struktur teks anekdot adalah abstraksi, orientasi, krisis, reaksi dan koda. 5 Ciri kebahasaan teks anekdot adalah a menggunakan kalimat yang menyatakan masa lalu; b menggunakan kalimat retoris; c menggunakan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu dan konjungsi yang menyatakan hubungan sebab-akibat; d menggunakan kata kerja aksi; dan e menggunakan kalimat seru. Ringkasan 103 Bahasa Indonesia “ “ YANG MELONTARKAN ORANG-ORANG KRITIK BAGI KITA PADA HAKIKATNYA ADALAH PENGAWAL JIWA KITA, YANG BEKERJA TANPA BAYARAN. pejuang dan penulis dari Belanda Corrie Ten Boom Kelas X SMAMASMKMAK 104 MELESTARIK AN NIL AI KEARIFAN LOK AL MEL ALUI CERITA R AK YAT MELESTARIK AN NIL AI KEARIFAN LOK AL MEL ALUI CERITA R AK YAT Sumber Pelajaran IV Kamu pernah membaca cerita rakyat? Cerita rakyat seperti apa yang pernah kamu baca? Salah satu jenis cerita rakyat adalah hikayat. Seperti cerita rakyat lainnya, hikayat memiliki banyak nilai-nilai kehidupan. Pada pelajaran ini kamu akan belajar memahami nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat. Untuk membekali kemampuanmu, pada pelajaran ini kamu akan belajar 1 mengidentiikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat hikayat baik lisan maupun tulis; 2 mengembangkan makna isi dan nilai-nilai dalam cerita rakyat hikayat baik secara lisan maupun tertulis dalam bentuk teks eksposisi; 3 membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat dengan cerpen; 4 mengembangkan cerita rakyat hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilai-nilai. 105 Bahasa Indonesia Untuk membantu kamu dalam mempelajari dan mengembangkan kompetensi dalam berbahasa, pelajari peta konsep di bawah ini dengan saksama. Mengidentifikasi nilai-nilai dalam hikayat yang masih sesuai dengan kehidupan saat ini. Menjelaskan kesesuaian nilai-nilai dalam hikayat dengan kehidupan saat ini dalam teks eksposisi lisan maupun hikayat Mengembangkan makna isi dan nilai hikayat Membandingkan penggunaan bahasa dalam cerpen dan hikayat. Mengidentifikasi karakteristik bahasa dalam hikayat. Membandingkan nilai-nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen. Mengembangkan hikayat ke dalam bentuk cerpen Mengidentifikasi karakteristik hikayat Mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat. Mengidentifikasi nilai- nilai dan isi hikayat MELESTARIKAN NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI CERITA RAKYAT Menceritakan kembali isi hikayat ke dalam bentuk cerpen Membandingkan nilai dalam hikayat dengan dalam cerpen. Kelas X SMAMASMKMAK 106 A. Mengidentifikasi Nilai-nilai dan Isi Hikayat Dalam menyusun anekdot, ada beberapa hal yang harus ditentukan lebih dulu. Hal tersebut adalah tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, dan pola penyajian teks anekdot. Langkah-langkah ini akan memudahkan kamu untuk belajar menyusun anekdot. Jadi bacalah dengan teliti contoh penyusunan anekdot agar nantinya kamu bisa menyusun anekdotmu sendiri. Dalam contoh berikut ini, kamu akan mengetahui bagaimana anekdot disusun. Langkah-langkah penyusunan disajikan dalam bentuk tabel, dengan penyelesaian pada kolom ketiga. No Aspek ISI 1 Tema Kasih sayang pada orang tua 2 Kritik Anak yang memandang orang tua di masa tuanya sebagai orang yang merepotkan. 3 Humor/ kelucuan Orang dewasa malu karena dikritik oleh anak kecil 4 Tokoh Kakek tua, ayah dan ibu anak, cucu 6 tahun 5 Struktur Kakek tua yang tinggal bersama anak, menantu dan cucu 6 tahun. Orientasi Kebiasaan makan malam di rumah si anak. Kakek tua makannya sering berantakan. Krisis Kakek tua diberi meja kecil terpisah di pojok, dengan alat makan anti pecah. Reaksi Cucu 6 tahun membuat replika meja terpisah. Koda Cucu 6 tahun mengungkap-kan kelak akan membuat meja terpisah juga untuk ayah dan ibunya. 6 Alur Kakek tua tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 tahun. Karena sudah tua, mata si Kakek rabun dan tangannya bergetar sehingga kerap menjatuhkan makanan dan alat makan. Agar tidak merepotkan, ia ditempatkan di meja terpisah dengan alat makan anti pecah. Anak dan menantunya baru sadar ketika diingatkan oleh cucu 6 tahun yang tengah bermain membuat replika meja. 7 Pola penyajian Narasi 8 Teks anekdot Seorang kakek hidup serumah bersama anak, menantu, dan cucu berusia 6 tahun. Keluarga itu biasa makan malam bersama. Si kakek yang sudah pikun sering mengacaukan segalanya. Tangan bergetar dan mata rabunnya membuat kakek susah menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh. Saat si kakek meraih gelas, susu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya menjadi gusar. Suami istri itu lalu menempatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan, tempat sang kakek makan sendirian. Mereka memberikan mangkuk melamin yang tidak gampang pecah. Saat keluarga sibuk dengan piring masing-masing, sering terdengar ratap kesedihan dari sudut ruangan. Namun, suami-istri itu justru mengomel agar kakek tak menghamburkan makanan lagi. Sang cucu yang baru berusia 6 tahunmengamati semua kejadian itu dalam diam. Suatu hari si ayah memperhatikan anaknya sedang membuat replika mainan kayu. “Sedang apa, sayang?” tanya ayah pada anaknya. “Aku sedang membuat meja buat Ayah dan Ibu. Persiapan buat ayah dan ibu bila aku besar nanti.” Ayah anak kecil itu langsung terdiam. Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu, kakek akan kembali diajak makan di meja yang sama. Tak akan ada lagi omelan saat piring jatuh, makanan tumpah, atau taplak ternoda kuah. Sumber J. Sumardianta, Guru Gokil Murid Unyu. Halaman 47. dengan penyesuaian Selanjutnya, siswa diberi tugas individual untuk menulis tek anekdot. Petunjuk untuk Guru Penilaian teks anekdot karya siswa difokuskan pada kesesuaian isi teks anekdot, ketepatan dan kelengkapan struktur serta kebahasaannya. Teks anekdot karya siswa ini sebisa mungkin dipublikasikan agar dapat dibaca oleh publik. Pameran yang dimaksud tidak harus pameran besar, bisa pameran dalam kelas dengan menggunakan kertas manila atau stereo foam sebagai media kemudian ditampilkan seperti majalah dinding. Pada sekolah-sekolah yang terjangkau jaringan internet, guru juga dapat mendorong siswa untuk memublikasikan karyanya melalui blog. Petunjuk untuk pameran a Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. b Setiap kelompok membuat majalah dinding dua dimesi atau tiga dimensi untuk memamerkan anekdotny. Siswa diarankan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar tempat tinggalnya. c Pameran dilakukan di halaman atau taman sekolah. d Setiap siswa wajib memberikan tanggapan tertulis terhadap pameran karya kelompok lain. Setelah bekerja secara individu menyusun anekdot yang temanya dipilih sendiri oleh guru, dengan isi dan gaya bahasa siswa, siswa ditugaskan untuk mempresentasikan anekdot yang dibuatnya di depan kelas. Lakukan langkah-langkah berikut. a Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. b Siswa membuat majalah dinding dua dimesi atau tiga dimensi untuk memamerkan anekdotmu. Sebaiknya siswa disarankan untuk menggunakan bahan-bahan yang mudah dan murah diapatkan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. c Pameran di halaman atau taman sekolah. PENILAIAN a. Penilaian Pengetahuan Penilaian pengetahuan dilakukan melalui penilaian harian baik melalui tes tertulis maupun penugasan, baik tugas individu maupun tugas kelompok. Berikut ini adalah contoh rumus penentuan nilai akhir untuk KD 3 pengetahuan. NA = 2 X Rt Tugas individu + Rt Tugas kelompok + 2 X Nilai Tes 3 Keterangan NA Nilai akhir Rt Tugas individu Rata-rata nilai tugas individu Rt Tugas kelompok Rata-rata nilai tugas kelompok Contoh tes tulis Petunjuk Bacalah teks eksposisi berikut ini, kemudian kerjakan soal-soal yang disediakan! Seorang bocah bertanya kepada ayahnya, “Ayah, dapatkah Ayah jelaskan apa itu politik?” Ayah “Nak, Ayah akan jelaskan agar kamu mudah mengerti. Ayah adalah pencari nakah bagi keluarga. Ayah bisa disebut kapitalisme. Ibu adalah pengatur keuangan. Ibumu boleh kamu sebut pemerintah. Ayah dan Ibu memenuhi kebutuhanmu. Kamu adalah rakyat. Bibi, pembantu kita, dinamakan buruh. Adikmu yang masih bayi, kita sebut masa depan.” Setelah selesai berbicara dengan ayahnya, anak itu masuk kamarnya untuk tidur. Tengah malam ia mendengar adiknya menangis. Ia bangun dan memeriksa. Adiknya basah kuyup dan kotro karena ompol dan buang air besar. Anak itu pergi ke kamar orang tuanya. Ia melihat ibunya sedang tertidur pulas. Tak ingin membangunkan ibunya, ia pergi ke kamar pembantu. Kamar pembantu terkunci. Tetapi di balik pintu, ia bisa mendengar suara ayahnya bersama pembantu. Ia sangat marah, tetapi langsung kembali ke kamarnya. Keesokan harinya, anak itu berkata kepada ayahnya. “Kurasa sekarang aku mengerti apa itu politik.” “Bagus, Nak, ceritakan kepadaku apa pendapatmu tentang politik?” “Saat kapitalisme memanfaatkan buruh, pemerintah tertidur, rakyat hanya bisa menonton dan bingung mendapati masa depan berada dalam kesulitan besar.” Sumber J. Sumardianta, Guru Gokil Murid Unyu 1. Jelaskan permasalahan yang diikkritisi dalam teks anekdot tersebut! 2. Apa kritik yang diampaikan dalam teks anekdot tersebut! Tunjukkan kalimat yang menujukkan hal tersebut sebagai bukti! 3. Analisislah struktur teks anekdot tersebut! 4. Ubahlah pola penyajian teks anekdot tersebut menjadi berbentuk dialog drama! Kriteria Penilaian No soal Deskripsi Skor Skor maksimal 1. Jawaban tepat, alasan tepat. Jawaban tepat, alasan salah. Jawaban salah, alasan salah. 20 10 10 20 2. Kritikan tepat, bukti tepat. Kritikan hampir benar, bukti benar/ Kritikan tepat, bukti salah. Kritikan salah, bukti salah 20 10 10 20 3. Identifikasi struktur teks lengkap dan tepat. Identifikasi struktur teks sebagian besar tepat. Identifikasi struktur teks separohnya tepat. Identifikasi struktur teks hanya sebagian kecil tepat 30 20 20 10 30 4. Isi, struktur, dan kebahasaan benar Isi dan kebahasaan benar, struktur kurang tepat. Isi dan struktur tepat, kebahasaan sebagian besar tepat Isi kurang tepat, struktur dan kebahasaan sebagian besar tepat. Isi kurang tepat, struktur dan kebahasaan sebagian besar kurangtepat. 30 20 20 10 10 30 b. Penilaian Keterampilan Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik, proyek, dan portofolio. Unjuk kerja dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat berupa unjuk kerja lisan maupun tulis. Proyek diberikan diberikan minimal 1 X dalam satu semester, dan biasanya diberikan pada proses embelajaran akhir. Portofolio diperoleh dari kumpulan tugas keterampilan yang dikerjakan siswa selama proses pembelajaran. Rumus penentuan nilai akhir untuk KD 4 keterampilan diambil dari nilai optimal yang diperoleh siswa pada stiap KD. INTERAKSI DENGAN ORANG TUA PESERTA DIDIK Interaksi dengan orang tua dilakukan untuk mengomunikasikan hasil belajar portofolios siswa kepada orang tua. Caranya, orang tua diminta menandatangani serta memberi komentar lembar tugas atau lembar jawaban ulangan anaknya pada bagian yang telah disediakan. “ “YANG MELONTARKAN ORANG-ORANG